Di bawah langit senja dekat perbatasan kota yang berwarna jingga pudar, Reza dan Risa duduk di bangku taman yang sama, tempat di mana mereka pertama kali bertukar tawa dua tahun lalu.
Namun, sore ini, udara terasa lebih berat. Di antara mereka, ada jarak yang tak terlihat namun begitu nyata, sebuah garis pembatas yang dibangun oleh keyakinan yang mereka peluk masing-masing.
Reza, seorang pemuda Muslim, menatap Risa yang mengenakan kalung salib kecil, sedikit berkilau terkena sisa cahaya matahari. Risa, gadis Katolik yang lembut itu, menundukkan kepalanya dalam.
"Kita sudah mencoba, Risa," ucap Reza pelan, memecah keheningan. Suaranya serak. "Kita sudah mengetuk setiap pintu, mencoba mencari celah di antara tembok yang memisahkan kita. Tapi tembok itu terlalu kokoh."
Risa mengangkat wajahnya. Matanya berkaca-kaca, namun ia tersenyum tipis—sebuah senyuman yang menyiratkan rasa sakit yang tertahan. "Aku tahu, Rez. Ayahku selalu bilang, cinta itu memang butuh perjuangan. Tapi mungkin, perjuangan kita kali ini bukan untuk bersatu, melainkan untuk melepaskan."
Reza menggenggam jemari Risa untuk terakhir kalinya. Hangat tangan itu masih sama, tetapi hatinya tahu bahwa genggaman ini harus segera berakhir. Mereka mencintai Tuhan masing-masing dengan seluruh jiwa, dan mereka sadar, mencintai satu sama lain dengan cara yang utuh tidak bisa dilakukan tanpa mengkhianati panggilan iman yang telah membesarkan mereka.
"Aku takut jika kita memaksakan ini, cinta yang awalnya indah justru akan berubah menjadi beban," lanjut Risa. "Kita akan terus meminta Tuhan untuk meruntuhkan tembok ini, padahal mungkin Tuhan sengaja meletakkan tembok itu agar kita tidak kehilangan arah."
Reza menarik napas panjang, membiarkan aroma tanah basah dan sisa hujan mengisi paru-parunya. "Kamu benar. Kehilanganmu adalah hal tersulit yang pernah kulakukan, Risa. Tapi aku tidak ingin cinta kita menjadi alasan untuk menjauh dari-Nya."
Mereka terdiam lama. Di kejauhan, suara azan Maghrib mulai berkumandang, bersahutan dengan dentang lonceng gereja dari arah yang berlawanan. Suara itu seolah menjadi pengingat akan jalan yang harus mereka tempuh masing-masing.
Reza berdiri, diikuti oleh Risa. Tidak ada pelukan, hanya anggukan saling mengerti. Mereka tahu bahwa merelakan adalah bentuk cinta yang paling murni dan paling menyakitkan—mencintai seseorang sampai ke titik di mana mereka rela melepaskannya demi kebaikan yang lebih besar.
"Bahagialah, Reza," bisik Risa sebelum berbalik pergi.
"Kamu juga, Risa," jawab Reza lirih.
Reza melangkah ke arah masjid, sementara Risa berjalan ke arah yang berlawanan.
Mereka tidak menoleh lagi.
Mereka memilih untuk saling melepaskan, membiarkan kenangan itu menjadi doa yang mereka simpan dalam sunyi, di bawah langit yang sama, di bawah restu Tuhan yang mereka yakini masing-masing.
.jpg)

0 Comments